• 9849123456
  • admin@tourdesingkarak.info
  • Padang, Sumatra Barat, Indonesia
Know TdS
Sedikit tentang, Manfaat Tour de Singkarak

Sedikit tentang, Manfaat Tour de Singkarak

Oleh:
Fajri Hidayat
Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi, FISIP UNAND
Penerima Beasiswa Dalam Negeri Kementerian Komunikasi dan Informatika RI – 2014

Tahun ini (2016), sudah kali yang kedelapan Tour de Singkarak (TdS) dihelat di Sumatera Barat. Namun demikian, masih banyak ditemui pro-kontra tentang iven ini di tengah masyarakat, terutama di media sosial.
Banyak yang masih mempertanyakan apa sebenarnya manfaat TdS bagi Sumatera Barat? Tidak sedikit pula yang menganggap bahwa iven ini cenderung memboroskan anggaran negara.

Wajar jika masih ada yang bertanya dan menduga tentang itu, karena TdS memang sebuah proyeksi jangka panjang bagi kepariwisataan Sumatera Barat yang baru dapat dilihat dan dirasakan manfaat besarnya di masa depan.

TdS merupakan iven olahraga internasional yang menyimpan misi promosi pariwisata yang dikenal dengan konsep sport-tourism. Hanya bungkusnya saja yang berupa balap sepeda, namun misi yang lebih diutamakan adalah promosi demi membentuk brand image kepariwisataan Sumatera Barat.
Pariwisata merupakan industri yang berbasis pencitraan (brand image).

Untuk membentuk brand image yang kuat, dibutuhkan waktu yang tidak sebentar. Namun sebaliknya, jika brand image telah melekat, perkara manfaat hanya tinggal menunggu waktu. Kita semua akan menuai hasilnya jika waktunya telah tiba.

Kita bisa mengambil contoh dari apa yang telah dicapai oleh Bali. Brand image Bali sebagai destinasi pariwisata kelas dunia merupakan hasil tabungan sejak tahun 1931 yang dilakukan melalui rangkaian promosi bertaraf internasional. Kejayaan Bali yang kita lihat hari ini adalah hasil tabungan jangka panjang para pendahulu mereka.

Oleh sebab itu, mengingat perjalanan TdS yang baru seumur jagung, kurang adil rasanya jika kita harus menghakimi proyek jangka panjang ini dan mempertanyakan hasil yang signifikan dalam waktu singkat.
Selanjutnya adalah persoalan anggaran. Seperti yang diungkap di atas, tidak sedikit yang menganggap iven ini sebagai pemborosan anggaran negara karena memakan anggaran yang mencapai total hingga Milyaran Rupiah.

Jika dilihat dari segi angka, benar itu adalah angka yang tidak sedikit. Namun, apakah kita pernah berfikir lebih jauh tentang rencana dan strategi pemerintah? Menurut Arief Yahya (Menteri Pariwisata RI) dalam sebuah siaran pers di media online, nilai berita yang dihasilkan dari penyelenggaraan TdS 2016 mencapai Rp. 150 Miliar.

Dari mana datangnya angka itu? Jawabannya adalah dari pemberitaan yang ditayangkan hingga ke seluruh penjuru dunia oleh para jurnalis lokal, nasional, dan internasional yang meliput TdS.

Asumsinya adalah jika pada hari-hari biasa (diluar TdS) kita perlu merogoh kocek hingga puluhan atau ratusan juta untuk sekali menayangkan iklan di stasiun televisi internasional, maka dengan TdS, kita bisa memanfaatkan anggaran puluhan hingga ratusan juta tersebut untuk tayangan yang berulang kali lebih banyak. Belum lagi jika tayangan tersebut di-relay di stasiun televisi lain hingga ke media sosial yang mampu menjangkau hampir seluruh penjuru dunia. Dengan kata lain, kita tidak perlu lagi menyediakan biaya dokumentasi, produksi hingga penayangan, karena semua pemberitaan sudah didokumentasikan, diproduksi dan ditayangkan oleh media-media yang meliput TdS. Sebuah penghematan, bukan?

Selanjutnya, jika ditinjau dari jumlah kabupaten/kota dan keberagaman potensi wisata yang dimiliki Sumatera Barat, TdS dapat dikatakan sebagai iven promosi gado-gado (kalau boleh saya mengibaratkannya begitu). Artinya, dalam satu iven promosi ini, terdapat beraneka ragam potensi wisata dan kekayaan budaya Sumatera Barat yang diperkenalkan kepada dunia.

Sumatera Barat memiliki 19 kabupaten/kota dengan ciri khas potensi wisata masing-masing. Maka TdS adalah sarana yang akan mengakomodir promosi dari semua kabupaten/kota tersebut dalam satu kemasan.
Lalu bagaimana dengan Mentawai? Benar, kabupaten ini memang tidak berpartisipasi sebagai penyelenggara. Tapi tahukan anda, bahwa Mentawai dalam sejumlah kesempatan juga berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan TdS melalui perkenalan budaya dan potensi wisata mereka?

Bahkan Drs. H. Burhasman, M.M. (Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Sumatera Barat) dalam interview di salah satu stasiun televisi mengatakan bahwa mereka sedang merancang agar Mentawai bisa terlibat aktif dalam penyelenggaraan TdS. Memang belum memungkinkan bagi pemerintah untuk menggelar balapan di Mentawai mengingat keterbatasan sarana dan prasarana yang tersedia, namun bisa saja dalam periode penyelenggaraan TdS ini diisi dengan rest day yang berisikan kegiatan kunjungan ataupun promosi wisata Mentawai secara khusus.

Yang terakhir, soal penggunaan anggaran negara. Saya pernah mendengar bahwa ini hanya sementara waktu menjelang TdS bisa benar-benar dilepas dan diselenggarakan dengan anggaran mandiri dari sponsor seperti yang diberlakukan pada Tour de France. Jadi, kita tak perlu khawatir berlebihan karena jika waktunya tiba, TdS akan dilepas sepenuhnya untuk mandiri. Apa yang dilakukan pemerintah hari ini hanyalah bagian dari proses untuk memperkuat fondasi TdS sebelum benar-benar kokoh dan bisa berjalan sendiri secara mandiri.

Itulah sedikit manfaat TdS yang bisa saya share. Semoga bisa sedikit membantu kita dalam memahami apa yang sebenarnya sedang direncanakan oleh Pemerintah. Memang cenderung tendensius, karena memang saya mendukung TdS sebagai strategi khusus untuk memajukan kepariwisataan Sumatera Barat yang memiliki segudang potensi ini. Barugi mangko balabo. (*artikel telah terbit di salah satu media)

Tags :