• 9849123456
  • admin@tourdesingkarak.info
  • Padang, Sumatra Barat, Indonesia

Peserta Menginap di Rumah Warga

Atasi Masalah Hunian di Tour de Singkarak 2014

01062013110511IMG_0898

Tahun ini, iven balap sepeda internasional Tour de Singkarak (TdS) digelar untuk keenam kalinya. Namun, daerah masih menghadapi masalah hunian yang terbatas. Dari 18 kabupaten dan kota yang akan dilintasi pebalap, baru Kota Padang dan Bu­kittinggi yang memiliki hotel dan pe­nginapan mumpuni. Mengatasi keku­rangan tempat penginapan di 16 daerah lainnya, muncul alternatif menjadikan rumah warga sebagai tempat menginap ratusan pebalap. Hal itu terungkap pada rapat koordinasi persiapan TdS 2014 di Basko Hotel kemarin. Soal penampilan kesenian dan kebudayaan, daerah me­nyatakan kesiapannya.

“Kalau soal hu­nian, kita memang baru punya hotel Nan Tongga dan Ma­libo Anai Cottage. Namun itu belum cukup menampung jumlah peserta,” ungkap Bupati Pa­dangpariaman Ali Mukhni kepada Padang Ekspres, usai rakor di Basko Hotel, kemarin.

Seperti diketahui, Padang­pariaman saat ini dipercaya sebagai lokasi pem­bukaan atau grand start iven yang akan me­nem­puh jarak total 1.250 km tersebut. Namun daerah terse­but masih mengalami keterba­tasan jumlah penginapan, se­hing­ga berharap Kota Padang sebagai tempat alternatif mengi­nap sebagian pebalap. Dengan kondisi itu, anggaran Rp 1 miliar yang akan disiapkan Padang­pariaman untuk iven yang dige­lar pada 7-15 Juni mendatang, tidak sebanding dengan kon­tribusi yang didapatkan daerah tersebut.

Sedangkan Wali Kota Pa­dangpanjang Hendri Arnis me­nyebutkan, meski daerahnya tidak mempunyai hotel yang cukup, namun dia berjanji men­carikan penginapan di rumah-rumah warga sebagai alternatif. “Jumlah hotel yang ada di Pa­dang­panjang memang tidak memadai. Jadi kami akan upa­yakan rumah-rumah penduduk nantinya untuk menampung para peserta,” sebutnya.

Keluhan serupa diung­kap­kan Wakil Wali Kota Pariaman Genius. Kota itu akan menjadi salah satu peserta yang akan menggelar parade sate, kuliner khas ranah Minang. “Ini untuk mengembalikan dan mem­per­ta­hankan masakan khas da­erah,” ungkapnya.

Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sapta Nir­wandar mengaku, saat ini iven TdS telah berhasil menembus peringkat kelima iven balap sepeda terbaik dunia. Bahkan saat ini, Indonesia telah mampu melakukan persiapan sendiri, tanpa dipandu Federasi Balap Sepeda Dunia (UCI) dan panitia Tour de France (TdF) sebagai wadah promotor iven balap sepeda internasional.

Karena itu, dalam pe­lak­sanaan TdS kali ini, hanya se­banyak empat tim Indonesia yang bisa bertanding. Sisanya merupakan pebalap-pebalap kelas dunia yang sering turun di iven-ivan balap sepeda dunia yang diadakan di Prancis, Italia dan Spanyol. Sekitar 25 tim de­ngan total hadiah Rp 1,3 miliar.

“Reputasi ini harus diper­tahankan, dengan menjamin terlaksananya iven berkualitas. Ber­kualitas dari segi pelayanan, ru­te dan sebagainya. Ini harus men­jadi tugas kita bersama,” akunya.

Wakil Gubernur Sumbar Mus­lim Kasim menjelaskan, untuk mendukung iven terse­but, dari 1.250 km jarak yang akan ditem­puh peserta nantinya, se­besar 70 persen di antaranya merupakan jalan nasional dan provinsi. Sisanya jalan kabu­paten/kota.

“Paling lambat akhirnya Mei ini, proses perbaikan jalan ini sudah tuntas. Jadi kami juga minta masing-masing daerah peserta bersama-sama menyuk­seskan iven ini,” jelas mantan Bu­pati Padangpariaman ter­sebut.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sumbar Bur­hasman Bur mengaku hotel di Sumbar saat ini mencapai 312 unit. Bertambah dibandingkan iven sebelumnya yang hanya 300 hotel.

Sementara untuk penga­manan pelaksanaan nantinya, Polda Sumbar akan menu­run­kan lebih dari tiga ribu perso­nil dari “Kita akan berdayakan selu­ruh Polres dengan kekuatan lebih dari 3.000 personil,” aku Kabag Dal Ops Polda Sumbar, Zulfahmi Saan Dt Marajo. Usai rakor, kegiatan dilanjutkan de­ngan Grand Launching TdS 2014 di Basko Grand Mall.

Praktisi Pariwisata Zuhrizul menyambut baik rencana meng­inapkan peserta TdS ke rumah-rumah penduduk. Me­nu­rutnya, hal itu salah satu cara memperkenalkan budaya lokal ranah Minang. Bahkan, banyak wisatawan luar negeri lebih ter­ta­rik menginap di local home stay atau rumah di perkam­pungan yang alami, diban­ding­kan di hotel berbintang. “Kami sudah terapkan itu di Lawang Park, Agam dengan mem­ber­dayakan pemuda setempat. Ter­penting, toiletnya bersih, ke­luarga angkat ramah, dan ma­syarakat sekitar harus diber­dayakan dan berbenah. Saya rasa, ini salah satu dampak eko­nomi yang nyata dari TdS bagi masyarakat. Setelah balapan, kita berharap mereka ajak ke­luar­ganya kembali berkunjung ke daerah ini,” ujar owner Ikarsa Tour dan Lawang Park ini.

Hal senada diungkapkan pengamat pariwisata Yulnofrins Napilus. Menurutnya, di Tour de France sekalipun, peserta dan penonton yang ingin me­nyak­sikan balap sepeda nomor wa­hid di dunia itu tidak hanya menginap di hotel, tapi juga di mobil-mobil caravan yang khu­sus dirental dan dan local homestay di perkampungan dekat garis start dan finish.

“Jadi, tidak hanya pengu­saha hotel saja yang menikmati dampak ekonomi iven ini, tapi juga riil masyarakat. Nah, di sini lah tugas pemkab dan pemko memberdayakan masyarakat sehingga mereka welcome ter­ha­dap pendatang, seperti mem­berikan pembekalan. Terpe­n­ting, toilet penginapan itu ha­rus bersih,” ingatnya.

SUMBER : Padang Ekspres • Senin, 31/03/2014 11:34 WIB