• 9849123456
  • admin@tourdesingkarak.info
  • Padang, Sumatra Barat, Indonesia

Etape 6, Tawarkan Kota Tua Sawahlunto

 

Pariaman, Sumatera Barat – Setelah menyelesaikan etape lima dari Pesisir Selatan menuju Pariaman, Rabu didominasi lintasan datar dari pantai ke pantai, kejuaraan balap sepeda internasional Tour de Singkarak (TdS) 2016 akan dilanjutkan dengan etape yang berbeda yaitu dari pantai menuju kota tua.
Pantai Tiram di Padang Pariaman, Kamis (11/9) akan menjadi lokasi start balapan yang didukung penuh oleh Kementerian Pariwisata itu. Lokasi pantai tersebut tidak jauh dari Pantai Gondoriah yang merupakan lokasi finis etape lima dimana pebalap asal Thailand, Kritsada Changpad menjadi yang terbaik.
Etape enam ini dinilai lebih menarik karena akan memadukan balapan dilintasan datar dan tanjakan tinggi tepatnya diperbatasan Kota Padang dengan Solok. Tanjakan yang akan dilalui pebalap ini juga cukup tinggi karena masuk kategori satu dengan ketinggian 1.132 mdpl.
Pebalap dengan spesialisasi tanjakan mempunyai peluang besar untuk mendominasi jalannya perlombaan. Sebut saja nama Amir Kolahdouz dari Pishgaman Cycling Team Iran yang saat ini memegang kendali pimpinan klasemen (yellow jersey), predikat raja tanjakan (polkadot jersey) dan raja sprint (green jersey).
Pebalap dengan nomor start satu berpeluang besar memanfaatkan tanjakan ini untuk memperlebar jarak dengan pebalap dibelakangnya. Apalagi Amir akan didukung oleh tim yang kuat diantanya Reza Hosseini dan Rahim Emami. Kerja sama tim akan menjadi kunci untuk meraih hasil terbaik.
Hanya saja Dadi Suryadi dipastikan tidak tinggal diam. Pebalap Terengganu Cycling Team Malaysia yang berada diposisi dua klasemen umum akan memberikan perlawanan. Bahkan, pebalap asal Sumedang itu akan terus mengeluarkan kemampuan terbaiknya.
“Untuk besok saya sudah siap meski balapan akan ketat. Untuk strategi, saya akan lihat kondisi besok,” kata pebalap yang sudah tiga kali menjadi pebalap Indonesia terbaik pada kejuaraan balap sepeda Tour de Singkarak itu.
Titik king of mountain (KOM) di perbatasan Kota Padang dengan Solok ini memang cukup menantang. Pebalap setelah menyelesaikan lintasa datar langsung disambut dengan lintasan tanjakan panjang dari Bandar Buat menuju batas Kota Padang/Solok dengan jarak kurang lebih 20 km.
Titik KOM ini bisa dikatakan sebagai penentuan. Siapa yang bakal tercepat ditanjakan tersebut berpeluang besar menjadi juara di etape enam. Apalagi setelah tanjakan, semua pebalap akan dihadapkan dengan turunan panjang dan rolling hingga finis di Taman Kandih.
Pergerakan Dadi Suryadi saat ini menjadi perhatian khusus dari pebalap dari Pishgaman Cycling Team. Bahkan, tim juara bertahan kejuaraan yang telah memasuki tahun kedelapan pelaksanaannya itu telah menyiapkan strategi untuk menahan laju pebalap asal Sumedang itu.
“Saya akan berusaha mengontrol perlombaan. Saya juga akan terus mengawasi Dadi Suryadi yang saat ini berada dibelakang saya. Dia memang pantas untuk diwaspadai,” kata Amir Kolahdouz saat ditanya persiapan untuk menghadapi etape enam.
Hingga etape lima yang finis di Pantai Gondoriah, Pariaman, Amir Kolahdouz masih kokoh dipuncak klasemen sementara (yellow jersey) dengan total catatan waktu 16.00.15 atau lebih cepat satu menit 22 detik dengan Dadi Suryadi yang diberada diposisi dua.
Terkait dengan lokasi finis, memang terjadi perubahan dibandingkan dengan TdS sebelumnya. Untuk tahun ini, finis dilakukan di Taman Kandih yang merupakan destinasi wisata baru di Sawahlunto meski telah dibuka sejak 2012.
Selama ini Sawahlunto dikenal dengan sebutan kota tua pertambangan karena kota ini tempat pertambangan batubara pertama di Indonesia. Dan salah satu tempat untuk pertambangan yang cukup dikenal adalah lubang Mbah Suro. Saat ini, lokasi pertambangan sudah dibuka untuk umum.
Tempat wisata lubang Mbah Suro ini didukung dengan museum manusia rantai yang menceritakan kerasnya perjuangan para penambang yang dipaksa untuk menggali tambang yang dulunya menjadi komoditas unggulan dari Sawahlunto. (*)