• 9849123456
  • admin@tourdesingkarak.info
  • Padang, Sumatra Barat, Indonesia

Area Peliputan Tour de Singkarak Merupakan Wewenang Race Director

Event Sport Tourism Internasional Tour de Singkarak (TdS) ke-8 kalinya akan berlangsung 6 hingga 14 Agustus 2016 mendatang. Pada tahun ini Sport Tourism TDS akan diikuti sebanyak 25 tim dari 30 Negara, 19 tim diantaranya berasal dari luar negeri dan 6 tim dalam negeri. Untuk lintasan, seluruh pebalap akan menjajal 8 etape yang melewati 17 kabupaten dan kota dengan total panjang lintasan sejauh 1.100 kilometer, serta memperebutkan hadiah sebesar Rp2,5 miliar.

Hingga saat ini, tim yang sudah terklarifikasi oleh panitia penyelenggara diantaranya tim dari, Malaysia, Singapura, Laos, Taiwan, Jepang, Swis, Korea, Australia, Iran, Uni Emirat Arab, Filipina, Hong Kong, dan Kenya. Sedangkan dari dalam negeri adalah tim nasional Indonesia, Prima Indonesia, BRCC Banyuwangi, SAKB Jawa Barat, dan tim dari Sumatera Barat.

Beberapa hal yang sering tidak dipahami oleh para pewarta dari tahun pertama penyelenggaraan Sport Tourism Tour De Singkarak -yang diketahui sudah masuk dalam kalender Union Cyclist International (UCI) dan Amaury Sport Organization (ASO)- ini adalah perihal akses liputan bagi pewarta yang berasal dari beragam media, baik media cetak maupun media elektronik, serta akses jalan bagi pengendara jalan raya.

Perlu diketahui dan dipahami bersama, bahwa untuk akses peliputan baik Tour de Singkarak maupun ajang balap sepeda bertaraf internasional merupakan wewenang penuh dari race director sebagai otoritas tertinggi dalam pemangku kebijakan area lintasan dan perlombaan secara keseluruhan, bukan kepada panitia penyelenggara maupun dinas terkait, dalam hal ini Dinas Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Sumatra Barat. Karena jelas, memiliki tupoksi job yang berbeda antara panitia penyelenggara, dinas terkait maupun Race Director.

Jika sudah masuk ke sistem dan tekhnis perlombaan, maka tidak ada satu pihak pun yang bisa mengambil kebijakan selain race director dan tim. Kecuali pada hal-hal tertentu, seperti adanya penghapusan etape/lintasan atau pengalihan rute, maka seluruh komponen dapat terlibat. Namun selain itu, semua merupakan wewenang dari race director. Termasuk disini soal area peliputan media dan rekayasa lalu lintas (buka-tutup ruas jalan).

Ketatnya peraturan, terutama untuk area peliputan media dan sterilisasi lintasan yang dilewati, tak lain hanya untuk keselamatan pewarta, pengguna jalan, hingga para pebalap. Karena seluruh pebalap akan serta merta memacu sepeda dengan kecepatan maksimal. Sejak perhelatan pertama TDS pada tahun 2009 lalu. Race Director dan tim sudah memberikan akses liputan bagi pewarta, terutama untuk pewarta foto dan kameraman.

Sistem liputan antara lain, baik pewarta foto maupun kameraman diberikan akses transportasi menggunakan sepeda motor yang dikendarai oleh puluhan Marshal. Pada tahapan ini, masing-masing pewarta dapat dengan leluasa mengikuti pebalap dan memilih
spot yang dianggap baik untuk pengambilan gambar, serta akses pengambilan gambar pada area garis finish. Pada tahapan ini, akses pengambilan gambar tidak selonggar saat pewarta melakukan liputan dengan mengendarai sepeda motor bersama Marshal.

Pada area garis finish, race Director menyiapkan area yang berjarak cukup aman dari garis finish dan dibatasi dengan garis kuning pada sisi kanan dan kiri (bisa jadi hanya pada satu sisi). Seluruh pewarta yang melakukan pengambilan gambar di area garis finish, diwajibkan untuk tidak keluar dari kotak garis yang sudah ditentukan dan tidak dibenarkan menggunakan alat bantu (tripod). Pertanyaan yang kerap timbul adalah, kepada siapa akses liputan tersebut diberikan oleh race director ?

Race director akan memberi akses penuh kepada orang yang dianggap mempunyai kapasitas dalam bidangnya. Artinya, yang bersangkutan mempunyai pengalaman dalam meliput kegiatan balap sepeda internasional. Dalam bahasa awamnya, sudah memiliki jam terbang yang tinggi. Akses diberikan kepada orang per orang, bukan kepada medianya. Maka tak mengherankan, dalam event Tour de Singkarak, banyak fotografer freelance yang mengambil peran, karena memang mereka lah yang punya akses untuk itu.

Beberapa media yang menyadari regulasi balap sepeda, lebih memilih mengambil foto/ video dari para freelance tersebut, karena memang diakui, merekalah, para freelance itu dengan akses yang penuh, mereka leluasa mengambil foto dan video, dengan demikian, hasilnyapun lebih bagus. Regulasi seperti ini dilakukan semata-mata untuk menjaga keselamatan, baik pewarta maupun pebalap. Karena kecepatan pebalap jelang finish biasanya lebih maksimal.

Sedangkan untuk pengguna jalan, lagi-lagi diharapkan dapat memaklumi kondisi dan situasi jika mengalami kemacetan atau antrian panjang yang disebabkan penutupan ruas jalan. Hal ini juga semata-mata guna keselamatan dan sudah menjadi standar internasional di setiap ajang serupa. Mengacu kepada peraturan lomba tahun 2015 lalu, dalam aturan yang dikeluarkan penanggung jawab lintasan perlombaan.

Untuk akses jalan raya yang dilewati para pebalap, ditutup setelah koordinator marshall melewati lintasan, atau sekitar 30 menit sebelum pebalap lewat. Pasalnya, marshall sendiri berjarak sekitar 45 menit dari pebalap. Dengan pembagian waktu, 20 menit dibelakang marshall ada pengamanan mobil polisi, dan 20 menit pengamanan menggunakan sepeda motor polis, baru kemudian 5 menit dibelakang pengamanan terakhir pebalap melintasi rute.

Aturan tersebut berlaku untuk lintasan satu arah. Lain halnya jika lintasan atau etape yang dilewati itu berlainan arah atau dua arah. Maka sepanjang lintasan memang harus steril satu jam sebelum start, atau minimal ketika start sudah dilakukan. Hal ini terpaksa dilakukan agar petugas khususnya kepolisian dan pihak terkait tidak kewalahan mengatur pengamanan di jalan raya. Karena jika tidak dilakukan hal demikian, maka tidak menutup kemungkinan pebalap menemui titik kemacetan.

Untuk menghindari hal tersebut, masyarakat dapat mencari informasi tentang lintasan yang dilewati pebalap serta jadwal perlombaan, sehingga dapat menentukan jam berapa harus melewati ruas jalan tersebut. Atau bisa mencari jalan alternatif (rekayasa jalur) sehingga tidak terjebak kemacetan atau antrian panjang. Pelaksanaan Tour de Singkarak, memberi banyak pelajaran yang positif kepada beberapa pihak.

Kita bisa melihat bagaimana ratusan orang dengan berbagai macam tugas, bisa bergerak secara terstruktur dan sistematis. Masing masing orang sudah memahami apa yang menjadi tugasnya. Dan masing masing orang bergerak sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan, maka tak mengherankan, selama tujuh kali pelaksanaan Tour de Singkarak, tak pernah sekalipun jadwalnya yang molor. Jika di buku panduan tertera jadwal start jam 14.00, maka tepat pada jam tersebut, race director akan memulai perlombaan, tak peduli, apakah pejabat yang berwenang hadir di panggung kehormatan atau tidak.

Diketahui, Event Sport Tourism Tour de Singkarak (TdS) merupakan iven bertaraf internasional yang dimiliki Provinsi Sumatera Barat. Disamping menjadi ajang olah raga bergengsi, TDS juga membuka pintu masuk bagi wisatawan asing dan dalm Negeri. Wisatawan tidak hanya disuguhkan oleh tontonan ajang balap sepeda, namun juga pesona alam yang luar biasa. Pun demikian dengan pendapatan ekonomi masyarakat yang juga dapat meningkat selama perhelatan TDS. (*)

Tags :